
LAMPUNG TIMUR – Menguatkan rasa cinta tanah air dan kebanggaan akan warisan leluhur, SMA Negeri 1 Sekampung menggelar kegiatan kokurikuler mengusung tema Aku Cinta Indonesia pada Senin (05/08/2026). Kegiatan ini menjadi wadah edukatif bagi para murid untuk mengeksplorasi secara mendalam kekayaan budaya Nusantara, baik berupa warisan budaya benda (tangible cultural heritage) maupun budaya takbenda (intangible cultural heritage).
Acara secara resmi dibuka oleh Kepala SMA Negeri 1 Sekampung, Herman Gaharu, S.Pd., M.M. Dalam sambutan pembukanya, beliau menyampaikan pesan mendalam mengenai pentingnya generasi muda untuk tidak melupakan akar budaya bangsa di tengah arus modernisasi.
"Generasi muda, khususnya murid-murid SMA Negeri 1 Sekampung, harus dapat aktif terlibat secara langsung dalam mengenal, memahami, dan melestarikan budaya Nusantara. Ini bukan sekadar formalitas pembelajaran, melainkan bentuk konkret dari implementasi semangat Aku Cinta Indonesia," tegas Herman Gaharu di hadapan ratusan siswa yang hadir.
Guna memberikan pemahaman yang komprehensif, inspiratif, dan berbobot, pihak sekolah menghadirkan dua narasumber istimewa yang memiliki kepedulian tinggi terhadap pelestarian budaya yakni Dr. Kian Amboro, M.Pd. (Dosen Pendidikan Sejarah Universitas Muhammadiyah Metro & Tim Ahli Cagar Budaya / TACB Provinsi Lampung) dan Triana Febrianti (Perwakilan Kabupaten Lampung Timur dalam Ajang Pemilihan Putri Otonomi Indonesia / POI 2026 sekaligus alumi SMA Negeri 1 Sekampung tahun 2018)

Dalam sesi pemaparan, Dr. Kian Amboro mengajak para siswa menyelami secara mendalam ragam bentuk warisan budaya Indonesia, baik warisan budaya benda (tangible) maupun takbenda (intangible). Beliau menjelaskan bahwa warisan budaya benda mencakup wujud fisik yang dapat dilihat dan diraba, seperti rumah-rumah adat Nusantara yang kaya akan arsitektur khas, situs cagar budaya, candi, pakaian adat, hingga senjata tradisional. Secara khusus, beliau mengupas detail nilai filosofis, struktur arsitektur, dan kearifan lokal yang terkandung dalam rumah-rumah adat daerah, yang mencerminkan cara hidup dan adaptasi masyarakat adat terhadap lingkungannya.
Sementara itu, untuk warisan budaya takbenda, beliau memaparkan kekayaan tradisi lisan, seni pertunjukan, adat istiadat, ritual, pengetahuian tradisional, serta tradisi permainan rakyat. Beliau secara khusus mengenalkan kembali berbagai permainan tradisional—seperti egrang, gasing, dan gobak sodor—yang sarat akan nilai sosialisasi, kebersamaan, kejujuran, dan ketangkasan fisik. Menurutnya, pemahaman mendalam atas kedua bentuk warisan budaya ini sangat krusial, mengingat nilai-nilai luhur dan interaksi sosial di dalamnya kian tergerus oleh era digitalisasi dan perubahan gaya hidup masyarakat modern.

Menyampaikan materi dari sudut pandang pemuda, Triana Febrianti menyoroti betapa pentingnya peran strategis generasi muda sebagai agen perubahan (agent of change) dalam melestarikan budaya. Sebagai figur muda yang mempromosikan potensi daerah di tingkat nasional, Triana memberikan motivasi dan strategi nyata agar para siswa bangga membawa kekayaan budaya lokal ke panggung yang lebih luas.
Menurut Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMA Negeri 1 Sekampung, Juwita Astuti, M.Pd., kegiatan kokurikuler bertema Aku Cinta Indonesia ini merupakan bentuk integrasi pembelajaran yang sangat krusial dalam memperkuat penguatan karakter dan profil pelajar Pancasila.
Beliau menyampaikan bahwa pembelajaran sejarah dan kebudayaan tidak cukup hanya dipelajari secara teoritis di dalam ruang kelas. Melalui kegiatan kokurikuler yang menghadirkan pakar cagar budaya dan figur inspiratif generasi muda secara langsung, para murid mendapatkan pengalaman belajar kontekstual yang jauh lebih bermakna. Hal ini tidak hanya memperluas wawasan akademis murid mengenai warisan budaya benda dan takbenda, tetapi juga menumbuhkan rasa bangga, empati kebudayaan, serta kesadaran kritis untuk menjaga identitas bangsa di tengah arus modernisasi.
Sepanjang rangkaian kegiatan, para murid SMA Negeri 1 Sekampung tampak sangat antusias. Diskusi berjalan interaktif ketika para siswa aktif mengajukan pertanyaan seputar upaya perlindungan cagar budaya serta cara-cara kreatif mempromosikan tradisi lokal agar tetap relevan bagi anak muda.
Melalui kegiatan kokurikuler ini, SMA Negeri 1 Sekampung tidak hanya memberikan pengetahuan teoritis, tetapi juga menanamkan karakter kebangsaan yang kuat. Pihak sekolah berharap benih-benih kepedulian yang ditanamkan hari ini dapat membentuk generasi penerus yang berwawasan global tanpa kehilangan identitas kebudayaannya.
Tim Jurnalistik/Humas SMA Negeri 1 Sekampung